Menghargai Kaum Difabel
Oleh Slamet Thohari
Di Alqur’an banyak dijelaskan bahwa perbedaan itu biasa, lumrah dan memang sudah titah. Tapi memang selalu saja datang orang-orang “kafir” yang anti terhadap titah Allah. Allah menganalogikan mereka sebagai orang yang “tertutup” atau “kafara”. Dalam surat al-Baqarah ayat 117 dan al-Anfal ayat 22 disebutkan bahwa orang-orang kafir adalah orang yang buta, tuli, dan bisu. Tentu bukan secara fisik, akan tetapi sebagai analogi untuk orang-orang yang tertutup: tidak mau mendengar dan melihat kekuasaan Allah dan Islam yang damai. Jadi “buta” menurut Alquran adalah mereka yang angkuh, egois, dan tidak bisa menghargai keragaman sebagai bagian kekuasaan Allah.
Secara tidak sengaja, saya sempat menyimak sebuah dialog langsung di TV One, untuk menanggapi Tragedi 1 Juni di Monas. Dialog tersebut menghadirkan salah seorang tokoh NU serta Habib Rizieq, dan rekaman sikap Gus Dur atas peristiwa itu. Dalam dialog itu, Rizieq Shihab, ketua Front Pembela Islam (FPI) dengan nada tinggi meminta Ahmadiyah dibubarkan. Dalam pernyataanya, Rizieq juga menolak jika FPI dianggap melakukan kekerasan terhadap perempuan, anak-anak, dan orang cacat.
Atas pernyataannya itu, beberapa hal perlu dikemukkan. Pertama, Rizieq menggunakan istilah “cacat”. Ia mungkin tidak mengerti bahwa tidak ada orang cacat di dunia ini. Yang ada: cacat menurut siapa dan berdasar kriteria pada apa istilah “cacat” itu dilabelkan? Masalah cacat dan tidak cacat merupakan kontruksi sosial. Setiap kontruksi merupakan kekaburan yang dipaksakan menjadi benar. Jika di sebuah pulau semua orang berkaki satu, maka yang disebut cacat adalah mereka yang berkaki dua. Semua atribut kebudayaan, agama, tata kota dan seterusnya akan menyesuaikan dengan kondisi tubuh orang berkaki satu.
Dus, masalah cacat adalah masalah dominasi makna dari “mayoritas” dan Rizieq menjadi bagian dari proses tersebut. Di depan publik, ia berkata bahwa kaum difabel sebagai orang cacat. Dalam dialog itu, pun Rizieq berkata, Gus Dur itu buta mata, buta hati. Gus Dur lihat dari mana? Gus Dur itu buta matanya, buta hatinya… Kalau Gus Dur mengatakan demikian, dia tidak benar. Dia tidak tahu apa-apa”.
***
Bagi saya, Islam merupakan agama rahmat bagi semesta alam, mesti mengayomi dan memberikan kesejukan bagi setiap manusia. Nabi Muhammad menyebarkan Islam dengan lemah lembut. Berbagai halangan dijalaninya dengan tabah dan penuh kasih sayang. Tak jarang Nabi diludahi orang-orang Quraish yang jahat. Namun, Sang Nabi tersenyum dan membalas dengan doa. Semua umat Islam mengetahui cerita Nabi yang selalu berjalan ke sebuah pojok kota menemui difabel netra (istilah yang lebih tepat dari pada sebutan Rizieq: “buta”). Nabi menyuapkan sepotong roti pada tuna netra tersebut. Uniknya, difabel netra tersebut adalah seorang non-Muslim, atau seorang “kafir” menurut Rizieq.
Banyak sekali cerita kesantunan Muhammad kepada difabel–yang oleh Rizieq disebut cacat. Dengan sosok Nabi yang ramah dan toleran ini, saya sebagai difabel menemukan kedamaian Islam, yaitu Islam yang mengajarkan keramahan dan toleransi. Itulah Islam, sebagiamana maknanya sebagai kedamaian dan kepasrahan kepada Tuhan.
Tentu sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan penghuni dunia ini dapat melihat dan “normal” semua. Namun, Tuhan menghadirkan dunia dengan berbagai ragam dan bentuk manusia. Setiap orang membutuhkan bantuan, persis seperti seseorang yang memerlukan cahaya untuk membaca. Jika pada sebuah kamar gelap, seorang difabel netra tetap tidak membutuhkan cahaya. Dia nyaman dengan buku braille-nya. Dengan tangan-tangannya yang lembut, difabel netra akan membaca apa saja. Begitulah dunia, penuh dengan perbedaan untuk menangkap atau mencerna segala sesuatu. Dengan begitu, pada hakikatnya tidak ada “orang buta”. Yang ada hanya perbedaan dalam menggunakan indra. Bagaimana mungkin seorang tokoh Islam seperti Rizieq membuta-butakan seseorang, lebih-lebih terhadap tokoh yang telah banyak berjasa buat bangsa ini.
Di Alqur’an banyak dijelaskan bahwa perbedaan itu biasa, lumrah dan memang sudah titah. Tapi memang selalu saja datang orang-orang “kafir” yang anti terhadap titah Allah. Allah menganalogikan mereka sebagai orang yang “tertutup” atau “kafara”. Dalam surat al-Baqarah ayat 117 dan al-Anfal ayat 22 disebutkan bahwa orang-orang kafir adalah orang yang buta, tuli, dan bisu. Tentu bukan secara fisik, akan tetapi sebagai analogi untuk orang-orang yang tertutup: tidak mau mendengar dan melihat kekuasaan Allah dan Islam yang damai. Jadi “buta” menurut Alquran adalah mereka yang angkuh, egois, dan tidak bisa menghargai keragaman sebagai bagian kekuasaan Allah.
Di Alqur’an pun dijelaskan, kita tidak sepatutnya berperilaku buruk terhadap difabel netra (Abasa:1-3). Ayat ini dilatarbelakangi sebuah persitiwa. Suatu saat Nabi sedang asyik menjamu beberapa tamu dari pembesar-pembesar Quraish. Lalu tibalah seorang sahabat difabel netra, Abdullah bin Umi Maktum yang ingin bertatap muka dengan Muhammad. Akan tetapi, Muhammad bermuka masam dan mengabaikannya. Seketika saja Allah memberikan peringatan kepada Nabi.
Dalam hadis juga diceritakan bahwa Rasulullah suatu hari ditemui seorang difabel netra yang menanyakan haruskan ia pergi ke masjid untuk shalat jamaah, sedang dia tidak mempunyai pemandu yang akan mengantarkan/menuntun. Nabi bertanya apakah ia mendegar suara adzan dari masjid. Sang tuna netra menjawab “ya”. Pada konteks masyarakat Arab ketika itu, dimana belum ada pengeras suara, mereka yang masih menengar adzan berarti bermukim tidak jauh dari masjid. Mengetahui kondisi ini, Muhammad pun menganjurkan difabel netra tersebut untuk ke masjid.
Sebagai difabel, saya nyaman dengan Islam. Salah satunya karena pandangan Islam yang mendorong sikap saling menghargai dan tidak mendiskriminasi manusia satu dengan lainnya. Sebuah pandangan yang menghargai dan menerima keberbedaan, sebagaimana perbedaan fisik pada diri saya, dengan penuh syukur. Kami memang buta, kami memang tuli, kami memang pincang, kami memang tidak bisa bicara, tetapi ini hanyalah keberbedaan. Sekali lagi, kaum difabel bukanlah orang-orang “cacat”, sebagaimana Rizieq katakan. Mereka yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak akan menghargai orang lain. Mereka yang mengaku paling benar dan lainnya salah, mereka itulah yang sebenarnya buta dan tuli.
Ini persis seperti digambarkan dalam sebuah cerita yang sudah umum bagi kaum Muslim. Suatu hari Nabi Muhammad dengan santun menuntun orang Yahudi difabel netra. Begitulah Muhammad, terhadap siapapun dia menghormati: tidak pernah mengenal identitas apapun untuk berbuat baik. Gus Dur jelas bukan orang Yahudi, bukan pula orang Arab. Gus Dur orang Jawa Timur yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia. Jadi, apa yang dinyatakan Rizieq sungguh sangat jauh dari teladan keseharian Nabi Muhammad dalam tatakrama dan adab Islam.
Karena itu, apa yang diungkapkan Rizieq seperti ditayangkan TV One merupakan pernyataan yang sangat tidak simpatik. Kaum difabel Indonesia sampai saat ini masih merupakan kaum yang belum terpenuhi hak-haknya, juga masih dilanda streotipe buruk di dalam masyarakat. []